Makna Jalan Salib seturut tradisi Gereja

Yesus yang terus berjalan
Yesus itu Jalan (Yoh 4:6). Dan Yesus hampir selalu berada dalam perjalanan. Ia bisa ditemui di jalan-jalan lorong kota, di tempat-tempat umum, di tempat perdagangan ikan, di gunung dan di rumah ibadat. Ia berjalan, bergerak dan dinamis. Bahkan tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya (Mt 8:20). Karena misi perjalanan pejiarahanNya yang dinamis itulah Yesus tidak tunduk pada jerat keinginan orang agar Ia masuk dalam kerangka permintaan orang . Yesus terus bergerak, bersabda dan bertindak untuk merespon kenyataan hidup manusia dengan segala kerepotan dan hiruk-pikuk kenyataan hidup. Yesus memberi HATI kepada orang-orang yang ada bersama Dia. Ia berhenti dan memberi waktu untuk orang yang menderita, mendengarkan kisah nasib mereka tetapi terus mengajak melangkah menuju pengharapan. Demikian pesan Paus Fransiskus pada orang muda sedunia yang berkumpul di World Youth Day, Jumat 4 Agustus 2023 di Lisbon. Dalam terang pesan seperti inilah kita menemukan jalan pejiarahan nyata kita. Kita berjalan bersama Yesus. Kita berjalan di jalan Yesus. Dan kita menemukan apa artinya salib.
Jalan Pejiarahan
Tradisi mewariskan informasi bahwa Bunda Maria setiap hari menapaki jalur perjalanan sengsara Yesus sampai di tempat penyaliban. Informasi lain menyebut bahwa St. Hironimus yang hidup di Yerusalem (342-420) menyaksikan umat yang berjiarah menapaki jalan yang dilalui Bunda Maria untuk merenungkan kembali kisah Yesus. (https://www.ewtn.com/catholicism/library/how-did-the-stations-of-the-cross-begin-1155). Rupanya gerakan rohani umat untuk mendekatkan diri pada Yesus dan menimba air hidup yang mengalir dariNya sudah terbentuk. Jalan Salib terus berkembang di kalangan umat. Pada abad ke 5, Petronius uskup dari Bologna membangun kapel-kapel pejiarahan dan jalan salib di biara Santo Stefanus. Pada abad ke 15, jutru karena hambatan dari Otoman dari Turki yang menghalangi pejiarahan ke tanah suci, di eropa berkembanglah tempat-tempat jiarah dengan jalan salib sebagai ganti jalan salib di tanah suci. St Bernard Clairvaux (+ 1153), St Francis Assisi (+ 1226) dan St Bonaventure Bagnoregio (+ 1274), dengan devosi rohani mereka yang kuat telah meletakkan dasar pengembangan doa devosional jalan salib di dalam hati umat Tuhan.
Marga Suci dan pengalaman connected
Devosi dan olah batin dengan merenungkan kisah sengsara dan wafat Yesus menjadi latihan rohani Gereja. Dengan olah batin Jalan Salib umat terbantu menghubungkan kehidupan dirinya dengan pengalaman Tuhan Yesus. Umat memasuki ruang ”connected” dengan Yesus dalam hampir semua sisi kehidupannya. Derita, ketidakadilan, perasaan jadi korban, kegagalan mengendalikan nafsu, kebaikan hati orang biasa seperti Simon dari Kirene dan Veronika dll oleh umat pengalaman ini diletakkan di jalan salib Tuhan dalam rangkaian 14 peristiwa penting sampai Yesus wafat. Keterhubungan peristiwa-peristiwa Yesus dengan pengalaman umat inilah yang kemudian memberi buah-buah refleksi rohani yang menguatkan. Dan di situ umat menimba air sumber kekuatan iman yang mengalir dari sang sumber hidup. Siapapun yang berjalan bersama Tuhan di jalanNya, akan mengalami jalan rahmat. Sambil berjalan bersama Tuhan, ia tumbuh. Doa Jalan Salib menjadi marga suci.
Katekese by Rm. Macarius Maharsono, SJ