Designed by Designata Studio
30

Iri dan Dengki merupakan Gambaran Keliru kepada Allah yang berbelas kasih

Iri dan Dengki merupakan Gambaran Keliru kepada Allah yang berbelas kasih

Marah dan dengki

”maka marahlah anak sulung itu dan tidak mau masuk”(Lukas 15:28).

Ketika kisah-kisah perumpaan dalam Injil Lukas dibacakan (Lukas 13-Lukas 20), hampir selalu kisah-kisah itu mengaduk-aduk dan menjungkirbalikkan pemikiran pembacanya dan kemudian menuntun untuk mengendapkan di muara pemahaman tentang kemurahan (kebaikan) hati Allah. Allah yang diwahyukan oleh Yesus kepada murid dan pembaca adalah Allah yang baik hati,  Allah adalah Allah yang sangat murah hati dan pengampun. Dengan memandang dan mengalami kemurahan hati Allah itu, kita juga dituntun untuk  menemukan diri kita sendiri. Kita juga menemukan hambatan-hambatan mana yang membuat kita sulit bermurah hati.

Iri hati dan tidak bahagia melihat orang melihat orang lain bahagia

Campur aduk tafsiran atas perasaan pada anak sulung dalam Injil Lukas 15:11-32 mengarah pada pengenalan akan rasa: marah, iri, benci, ngambeg, tidak bisa bersyukur dan agar orang yang dianggap jahat/dosa mendapat hukuman.

Dalam kisah ”Anak Yang Hilang”, atau ”Bapa yang Maha baik” ini, rasa iri yang terjadi pada kakak sulung bukan iri tentang kepemilikan harta orang lain,tetapi pada ”kebaikan yang didapat oleh orang lain”. Lebih-lebih, kebaikan itu datang dari orang yang ”dekat” dengan dirinya (Bapa). Orang yang sudah banyak berdosa mestinya ia mendapat celaka dan hukuman. Orang (bapa) yang satu circle, mestinya juga menyetujui perasaan dan pikiranku.

Ketekismus Gereja Katolik melihat iri hati adalah salah satu dari dosa pokok. Orang kecewa  karena yang lain mendapat untung. (KGK # 2539). Dari iri hati muncullah kedengkian, fitnah, kegirangan akan  kesengsaraan sesama dan menyesalkan keberuntungannya, tidak gembira ketika orang lain mengalami kemajuan perbaikan. KGK meniriskan ajaran St. Agustinus, St. Gregorius Agung dan St. Yohanes Krisostomus. Ajaran KGK dengan sangat tegas mengajarkan bahwa iri hati adalah bentuk kegundahan dan penolakan cinta kasih (KGK #2540).

Menelikung Allah masuk ke dalam kotak

Iri hati adalah ketidakbahagiaan ketika mengetahui bahwa orang lain bahagia. Ada rasa sakit yang menyayat ketika melihat orang lain bahagia. Dan di sana ia terus menolak. Kemarahan (kesal hati) karena Allah berbelas kasih kepada ”orang berdosa” yang bertobat menjadi kisah yang sangat dramatis dalam pengalaman Nabi Yunus. Kisah pergulatan Yunus menampilkan cerminan pola-pola pikir kita juga.

Kisah Bapa yang baik hati dalam Lukas 15: 11-32 juga menampilkan kekesalan dan amarah pada anak sulung yang merasa hidupnya beres. Mengapa ”Bapa” tidak menghukum saja saudaraku yang bejat dan berdosa itu? Bukankah anak durhaka dan bejat, boros dan pendosa perlu dihukum? Ketika dia kembali, bapanya tidak menghukum tetapi malah merayakan pertobatanya. Dan ia membandingkan kualias hidup dirinya dengan adiknya. Kalau ”Bapa” sayang kepadaku, mestinya ”Bapa” mengikuti kemauanku: menghukum dia seperti aku ingin menghukumnya. Karena dengki, keinginan menghancurkan  itu ingin dilaksanakan (Keb 2:24). Biasasanya, kalau kita marah atau kecewa pada Allah, itu karena kita sedang menelikung Allah untuk masuk dalam kotak sempit pemikiran kita sendiri.

Allah yang maha berbelas kasih

Sejarah kejatuhan dan kedosaan manusia adalah sejarah ketidakterbatasan kasih Allah. Itu juga sejarah kesetiaan Allah. Kitab Kejadian menampilkan beberapa kali penegasan bahwa Allah menjadikan manusia sebagai gambar Allah (citra). Kitab Kebijaksanaan Salomo 2:23 juga menampilkannya. Dalam semua penegasan bahwa manusia adalah citra Allah tersebut senantiasa ditampilkan pula bagaimana Allah berbelas kasih tanpa batas.

Menurut Paus Fransiskus, iri dan dengki terjadi karena manusia memakai gambaran yang keliru tentang Allah. Demikian juga manusia menjadi keliru dalam memahami cinta, belas kasih dan keadilan. Kisah para penggarap kebun anggur dengan upah yang sama meskipun jam kerja yang berbeda, adalah penyataan logika Allah (Mat 20:1-16). Dan terhadap logika Allah ini, manusia bisa gagal memahaminya. https://www.americamagazine.org/faith/2024/02/28/pope-francis-general-audience-envy-vainglory-247391

Tuhan Yesus mewahyukan Allah adalah Bapa yang maha baik. Kisah ”anak yang hilang” atau ”Bapa yang maha baik” (Lukas 15: 11-32) adalah kisah pewahyuan tentang Allah yang senantiasa gembira menerima dan mengampuni. Allah mempunyai hati yang terbuka, tangan yang lebar untuk memeluk dan tidak kehabisan harta untuk merayakan pertobatan. Allah juga yang mau keluar, menghampiri serta mendengarkan ”kekecewaan” kita kepadaNya. Kepada Allah yang  seperti inilah, orang berdosa tidak takut untuk tersungkur dan memohon belas kasih dan pengampunan.

 

Katekese by Rm. Maharsono, SJ

semua katekese