Derma dalam Pejiarahan Iman

Dalam surat gembala Bapak Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Kardinal Ignasius Suharyo menyampaikan pesan yang sangat kuat agar umat KAJ memberi perhatian lebih kepada saudara-ri kita yang menderita dan terpinggirkan. Hampir di seluruh dunia, Gereja Katolik membuat seruan yang sama karena ini memang menjadi roh hidup Gereja. Salah satu gerak untuk menolong orng miskin atau yang terpinggirkan adalah dengan dana (derma), agar umat Katolik mendapat bentuk dan kekuatan melaksanakan panggilan Injil tadi. Katekismus Gereja Katolik menunjukkan kepada kita bagaimana dana/ derma ini sebagai salah satu kesaksian utama cinta kasih kepada sesama. Katekismus juga menyebut derma merupakan perbuatan keadilan yang berkenan kepada Allah (KGK. 2447).
- Keadilan dan Cinta
Berdoa, matiraga dan derma, dilakukan bukan demi apa yang akan kita dapatkan dari perbuatan ini. Dalam rentang waktu masa prapaskah ini, doa, matiraga dan derma kita justru menjadi ”sarana” pemurnian cinta jiwa kita. Kita berdoa, bermatiraga dan berderma bukan untuk menaklukkan Tuhan agar Tuhan ”segera” memenuhi permintaan kita. Sebaliknya, doa, matiraga dan berderma adalah ungkapan kita mencintai Tuhan. Doa bukan untuk mencari ”kenyamanan rohani” bagi diri sendiri, matiraga bukan sebagai ”proses menguruskan badan”(diet), dan derma bukan untuk memberi rasa bangga ”aku bisa memberi”. Dalam kegiatan yang kelihatan sangat rohanipun, kita bisa terjebak dengan tumbuhnya egoisme yang memelesetkan kita dari tujuan. Masa prapaskah menjadi masa indah pemurnian diri kita.
Menurut St. Yohanes Krisostomus, kalau kita tidak membuka ruang akses bagi kaum miskin turut menikmati harta milik kita, itu berarti (kita) mencuri dari harta orang miskin dan membunuhnya.(KGK 2446). Yang kita miliki bukanlah milik kita sendiri melainkan milik mereka. Maka derma sebenarnya adalah juga bentuk pengembalian harta kepada orang miskin. Derma menjadi wujud kasih cinta ketika lebih dari sekedar pengembalian tadi.
- Pemurnian derma
Derma atau tindakan amal kasih juga bisa membuka ruang bagi kita untuk mengadakan pemurnian. Pemurnian pertama ada di niat atau intensi. Derma perlu lahir dari intensi yang tulus. Derma dari ketidaktulusan hati menimbulkan bentuk egoisme baru yang bisa berupa kesombongan atau flexing dll.
Pemurnian kedua ada di asal barang atau uang tersebut. Uang hasil tindak kejahatan (korupsi, pencurian dll) yang didermakan memang bisa ”berguna” bagi orang lain, tetap ini masih merupakan tutup terhadap borok yang busuk. Oleh karenanya cara mendapatkan uang/barang tersebut perlu dimurnikan juga. Dengan berderma kita juga mendapatkan kesempatan untuk merefleksikan sumber dan cara kita mendapatkan uang/barang.
Pemurnia ketiga ada di kelompok penerima. Penerima bantuan amal kasih / derma adalah kelompok orang yang memang sungguh perlu dibantu. Mengalihkan bantuan untuk orang miskin ke kelompok yang sudah mampu, menurut St. Yohanes Krisostomus adalah tindakan perampokan. Sangat tidak adil.
- Kloset WC
Menarik sekali bagaimana Tuhan Yesus memberi peringatan mengenai perbuatan baik dan derma atau sedekah. ”Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui oleh tangan kirimu apa yang diperbuat oleh tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi” (Mat 6:3). Derma dalam ketersembunyian inilah yang indah di hadapan Allah. Dalam bahasa yang kurang halus sopan, berderma dan berbuat amal kasih itu seperti kita buang hajat: sesudah urusan selesai, diguyur bersih dan selesai di situ. Tidak lagi perlu diingat kembali.
Katekese by Rm. Maharsono, SJ